Kamis, 25 Oktober 2012

Methods engineering

Methods engineering adalah studi yang mempelajari secara sistematis seluruh operasi langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan perbaikan - perbaikan sistem kerja agar pekerjaan mudah dilakukan dan dalam waktu yang singkat. 

Frederick W. Taylor 

Frederick W. Taylor (1856 – 1915) dikenal sebagai ”Bapak Manajemen Ilmiah” karena usahanya dalam meningkatkan efisiensi industri. Taylor merupakan orang pertama yang melakukan studi waktu dengan menggunakan stopwatch untuk mempelajari suatu pekerjaan. Taylor tidak hanya memperkenalkan teknik ini tetapi juga berhasil mendemonstrasikan keunggulan teknik pengukuran waktu untuk perbaikan kerja sehingga atas usahanya ini dia juga dikenal sebagai ”Bapak Studi Waktu”.


 Taylor dilahirkan di Philadelphia, Pennsylvania dari keluarga yang kaya. Dia sempat diterima di Universitas Harvard dengan hasil test yang sangat baik tetapi tidak sempat mengikuti perkuliahan karena masalah kesehatan pada mata. Atas nasehat dokter yang merawatnya, Taylor kemudian bekerja sebagai mekanik di salah satu perusahaan. Pada tahun 1878, Taylor kemudian bekerja di perusahaan baja Midvale Steel Works dan memulai karirnya sebagai buruh. Karirnya kemudian berkembang sehingga menjadi operator mesin, supervisor dan pada umur 31 tahun menjadi Chief Engineer. Pada tahun 1883, setelah bertahun-tahun kuliah sambil bekerja Taylor berhasil lulus dari Stevens Institute sebagai insinyur teknik mesin. Di perusahaan inilah Taylor melakukan studi waktu dengan menggunakan stopwatch yang menjadi tonggak sejarah dalam perkembangan teknik industri.


Percobaan Taylor yang paling terkenal adalah percobaan pemindahan bijih besi dengan menggunakan sekop. Pada awalnya, Taylor mengamati bahwa masing-masing pekerja membawa sendiri sekopnya dari rumah dengan ukuran yang berbeda-beda. Masing-masing pekerja juga melakukan teknik yang berbeda-beda tergantung ukuran sekop yang dibawa. Ada pekerja yang dapat memindahkan bijih besi dalam jumlah banyak dengan sekop yang

besar dan ada juga yang hanya mampu memindahkan sedikit bijih besi. Dari pengamatannya, Taylor berpendapat bahwa ukuran sekop yang berbeda-beda membuat metode kerja pekerja juga berbeda-beda sehingga hasil kerja juga bervariasi. Taylor kemudian melakukan suatu percobaan untuk menentukan ukuran sekop yang paling sesuai digunakan sehingga dapat memberikan hasil kerja yang terbaik.

Setelah mendapatkan izin melakukan studi mengenai pekerjaan pemindahan bijih besi dari atasannya, Taylor kemudian memilih seorang pekerja untuk menjadi subjek percobaan. Kepada pekerja Taylor mengatakan akan menggandakan upahnya jika menjadi subjek percobaan. Taylor kemudian mempersiapkan beberapa alternatif ukuran sekop untuk pekerjaan pemindahan bijih besi. Pada saat percobaan, Taylor mengamati gerakan kerja pekerja dan mengukur setiap elemen gerakan dengan menggunakan stopwatch. Taylor merancang kombinasi percobaan dengan variasi ukuran sekop, durasi kerja, frekuensi istirahat dan lamanya jam kerja. Dari percobaan ini Taylor mendapatkan hasil bahwa hasil kerja sangat dipengaruhi oleh durasi kerja, lamanya waktu istirahat dan frekuensi istirahat. Taylor kemudian juga mengusulkan ukuran standar sekop yang dipakai oleh pekerja yang dapat memberikan hasil optimal yaitu sekop dengan ukuran 21,5 lb.


Setelah rekomendasi Taylor diterapkan, hasilnya sungguh mengagumkan. Jumlah pekerja untuk pemindahan bijih besi yang tadinya berkisar antara 400 – 600 orang dapat dikurangi menjadi 140 orang. Biaya pemindahanpun dapat dikurangi dari 7 -8 sen menjadi 3 sampai 4 sen per ton sehingga terjadi penurunan ongkos produksi secara total sebesar 78.000 dolar per tahun. Sebagai tambahan, perusahaan mulai memberikan sistem bonus atau insentif bagi pekerja yang hasil pekerjaannya di atas standar yang ditetapkan. Berdasarkan keberhasilan studi ini, Taylor kemudian mencoba mengembangkan lebih lanjut pedoman untuk meningkatkan efisiensi kerja.


Pedoman Taylor untuk meningkatkan Efisiensi Kerja
Berdasarkan pengalamannya, Taylor membuat pedoman tentang cara meningkatkan
efisiensi kerja (Meyers, 1999: 9):
1. Kembangkan suatu kajian bagi tiap-tiap unsur pekerjaan seseorang yang menggantikan metode lama yang
    bersifat untung-untungan.
2. Pilih pekerja terbaik untuk masing-masing pekerjaan dan latih pekerja tersebut dengan metode yang telah
    dikembangkan.
3. Kembangkan semangat kerjasama antara pihak manajemen dan pekerja dalam melaksanakan metode yang
    telah dikembangkan.
4. Bagilah pekerjaan secara merata antara manajemen dan pekerja, masing-masing melakukannya dengan
    usaha terbaik.

Sebelum Taylor mengembangkan pedomannya, masing-masing pekerja di perusahaan memilih sendiri pekerjaan mereka, bekerja dengan cara sendiri dan mengembangkan metode kerja secara ”trial and error”. Taylor mengusulkan manajemenlah yang harus memilihkan pekerjaan yang sesuai bagi pekerja dan melatihnya sehingga mempunyai ketrampilan tertentu. Manajemen disarankan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang

tidak sesuai bagi pekerja terutama perencanaan, pengawasan, pengalokasian kerja dan pengorganisasian.



Frank Gilbreth (1868-1924) & Lilian Gilbreth (1878-1927)


Frank dan Lillian Gilbreth dianggap sebagai ”The parents of Motion Study” (Meyers, 1999). Frank B. Gilbreth dilahirkan di Fairfield, Maine pada tahun 1868. Frank memulai karirnya sebagai buruh bangunan dengan pekerjaan yang paling dasar yaitu sebagai pekerja batu bata, sampai kemudian menjadi kontraktor bangunan yang sukses. Pada saat bekerja sebagai pekerja dan kontraktor bangunan inilah Frank menemukan ketidak efisienan gerakan pekerja dalam memasang batu bata. Frank selanjutnya melakukan percobaan untuk mengefisienkan gerakan pekerja pada saat memasang bata.

Pada tahun 1904 Frank menikahi Lillian, seorang psikolog yang tidak hanya memberinya 12 orang anak tetapi juga banyak berkontribusi pada karirnya – terutama dalam pengembangan studi gerakan kerja. Lillian Gilbreth merupakan seorang psikolog yang sangat mempertimbangkan aspek manusia dalam pekerjaan. Disamping kajian mengenai gerakan kerja, Frank merupakan inspirasi dari buku berjudul Cheaper by the dozen yang ditulis oleh dua orang anaknya Frank Jr dan Ernestine. Buku ini kemudian menjadi inspirasi pembuatan film dengan judul yang sama Cheaper by the dozen yang dibintangi oleh Steve Martin dan Bonnie Hunt.

Percobaan Frank Gilbreth
Pada saat bekerja sebagai pekerja dan kontraktor bangunan, Frank mengamati dan menemukan inefisiensi gerakan pekerja dalam memasang batu bata. Frank mencatat bahwa pada saat memasang batu bata terdapat beberapa cara kerja yang berbeda: cara pertama adalah cara yang diberikan oleh instruktur dengan sekumpulan gerakan dasar, cara yang lain dilakukan pada saat dia melakukan pekerjaan pemasangan sendiri dan cara yang ketiga adalah cara pada saat pekerjaan dilakukan tergesa-gesa. Frank kemudian melakukan eksperimen untuk menemukan cara yang terbaik dan paling efisien. Hasil kajiannya kemudian menghasilkan sekumpulan gerakan kerja yang lebih efisien. Percobaan Frank ini dapat mengurangi gerakan dasar dalam memasang bata dari 18 menjadi 5. Lebih jauh lagi pengurangan gerakan dasar ini meningkatkan produktivitas pekerja dan mengurangi tingkat kelelahan pada pekerja.

Gilbreth kemudian melanjutkan ketertarikannya mempelajari gerakan-gerakan kerja pekerja untuk pekerjaan lainnya. Dia melihat potensi perbaikan metode kerja, mengganti elemen kerja menjadi elemen kerja yang lebih singkat sehingga juga dapat mengurangi kelelahan bagi pekerja. Pada awal kajiannya dia banyak menggunakan kamera untuk mempelajari gerakan pekerja. Barulah setelah penggunaan video kamera yang dapat merekam kegiatan kerja pekerja, studi tentang gerakan kerja yang dilakukan Gilbreth menjadi jauh lebih berkembang.

Studi Gerakan
Pada waktu Perang Dunia I, Frank bertugas di Angkatan Bersenjata Amerika. Tugasnya adalah menemukan cara paling cepat dan efisien untuk merakit dan membongkar senjata. Frank dan Lillian kemudian banyak melakukan kajian-kajian mengenai gerakan kerja secara bersama. Kesuksesan penelitian tentang gerakan kerja yang ditunjang dengan penggunaan video kamera menyebabkan Frank kemudian meninggalkan pekerjaannya sebagai
kontraktor dan beralih menjadi konsultan. Berdasarkan hasil penelitiannya, pada tahun 1912 Frank kemudian mempublikasikan micromotion study pada pertemuan ASME (American Society of Mechanical Engineering). Micromotion study merupakan studi tentang elemen gerakan dasar suatu operasi dengan menggunakan video kamera dan alat pengukur waktu yang secara akurat mengukur waktu interval suatu gerakan (Barnes, 1980).

Frank dan Lillian mendirikan perusahaan konsultan sendiri, Gilbreth, Inc. Frank banyak memberikan pelatihan-pelatihan dari aspek engineering sedangkan Lillian dari aspek psikologi. Ini menjadikan keduanya pasangan yang kompak dan saling melengkapi. Pasangan ini juga meneliti mengenai kelelahan (fatique) pada pekerja, transfer keterampilan dan mengembangkan teknik cyclegraphic dan chronocylegraphic untuk mempelajari jalur gerakan dari seorang pekerja saat bekerja.

Pada bulan Mei 1912, Gilbreth memulai suatu pekerjaan konsultasi di perusahaan New England Butt Company, perusahaan yang memproduksi mesin-mesin produksi. John G. Aldrich, wakil presiden dan general manager perusahaan sangat mendukung kehadiran Gilbreth. Di perusahaan inilah Gilbreth mengembangkan teknik Micromotion Study yang dijelaskan di atas. Untuk menunjang pekerjaan konsultasinya di New England Butt Company, Gilbreth meminta perusahaan membangun suatu laboratorium yang dikenal sekarang Betterment Room. Di laboratoriun ini Gilbreth banyak melakukan penelitiannya mengenai gerakan kerja dengan menganalisa dan mengembangkan metode kerja yang lebih baik. Atas saran Gilbreth (yang diperolehnya dari hasil penelitian), New England Butt Company kemudian membentuk departemen production planning, mempelajari aliran dan cara
penanganan material yang lebih baik, merancang dan membuat meja kerja dengan ketinggian yang sesuai bagi pekerja serta menghasilkan rancangan kursi yang sesuai dan nyaman digunakan. Gilbreth juga merancang dan menerapkan alat bantu material handling yang baru. Laboratorium ini sampai sekarang masih banyak dikunjungi oleh akademisi dan ilmuwan untuk melihat hasil kerja dari Gilbreth.

Gilbreth dan Gerakan Dasar
Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukannya, Gilbreth mengembangkan beberapa bagian dari gerakan kerja yang dianggap umum untuk sebagian besar pekerjaan manual. Dia kemudian memperkenalkan istilah Therblig untuk memberikan tekanan kepada elemen gerakan dasar yang terlibat pada suatu pekerjaan manual. Kata therblig lebih diterima untuk digunakan dibandingkan dengan kata padanan “gerakan tangan” atau “elemen gerakan”. Gilbreth mengembangkan 17 gerakan dasar (disebut Gilbreth) yang umum terjadi pada suatu pekerjaan manual dan ini dianggap sebagai salah satu sumbangan terbesar Gilbreth. Sebagian besar dari therblig ini merupakan gerakan dasar tangan yang paling dominan dalam bekerja. Suatu pekerjaan yang utuh dapat diuraikan menjadi gerakan-gerakan dasar yang disebut therblig tadi.

Gerakan dasar yang diuraikan oleh Gilbreth sangat membantu menguraikan suatu pekerjaan atas elemen-elemen gerakan sehingga mempermudah analisa dan perbaikan. Dari gerakan dasar ini, dapat dipisah-pisah mana gerakan dasar yang efektif dan mana yang tidak efektif. Eliminasi gerakan dasar yang tidak perlu dan perbaikan terhadap gerakan dasar lainnya merupakan fondasi dari teknik Gilbreth. Proses eliminasi gerakan dasar yang tidak perlu ini kemudian dikenal sebagai work simplification (Meyers, 1999). Gerakan-gerakan dasar (terbligh) Gilbreth ini menjadi dasar dalam pengembangan teknik pengukuran waktu dengan data gerakan (Predetermined Time Standard System – PTSS).

Studi Waktu dan Gerakan dan Perkembangan Selanjutnya
Pada awalnya, studi waktu yang dikenalkan oleh Taylor dan studi gerakan yang dikembangkan oleh Gilbreth dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Studi waktu pada awalnya banyak digunakan untuk menentukan waktu standar sedangkan studi gerakan digunakan untuk perbaikan metode kerja. Penggunaan studi waktu pada awalnya lebih banyak diterapkan terutama untuk sistem upah insentif dibandingkan dengan penggunaan studi gerakan. Pada tahun 1930-an orang mulai menyadari bahwa studi waktu dan studi gerakan merupakan dua hal yang saling berkaitan dan menunjang sehingga kedua istilah ini kemudian digabung menjadi ”motion and time study”. Dengan studi gerakan, dapat diperoleh alternatif metode kerja yang lebih baik dan untuk mencari rancangan terbaik perlu dilakukan pengukuran waktu. Istilah motion and time study kemudian menjadi suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Istilah lain yang sering digunakan untuk ”motion and time study”. adalah ”methods engineering”.

Istilah ”motion and time study” yang dikenal juga sebagai methods engineering kemudian diterjemahkan sebagai teknik tata cara kerja (Sutalaksana et al., 1979). Berbagai penelitian kemudian banyak dilakukan yang bertujuan untuk menerapkan ataupun mengembangkan teknik studi waktu dan gerakan. Pada tahun 1940 di Inggris, sampling pekerjaan pertama kali digunakan oleh LHC Tippet di pabrik-pabrik tekstil. Karena kegunaan dan caranya yang praktis, metode ini banyak digunakan di berbagai belahan negara lain. Hasil yang diperoleh
dari sampling pekerjaan dapat digunakan untuk menentukan utilisasi mesin dan personel kerja, kelonggaran yang diberikan pada pekerjaan tertentu dan menentukan standar produksi (Niebel dan Freivalds, 2003). 
Berdasarkan hasil kajian mengenai gerakan dasar yang dilakukan oleh Gilbreth, beberapa ahli kemudian juga mengembangkan suatu sistem pengukuran dengan data waktu gerakan yang dikenal sebagai Predetermined time standar system (PTSS). 

Beberapa sistem pengukuran kemudian dikembangkan seperti Work-Factor oleh JH Quick, WJ Shea dan R.E Koehler pada tahun 1938, sistem pengukuran waktu dengan MTM (Methods Time Measurement) oleh Maynard, Stegemerten dan Schwab pada tahun 1948 dan sistem pengukuran dengan MOST oleh Zandin pada tahun 1967.

Sistem Work-Factors merupakan salah satu sistem pengukuran PTSS (Predetermined time standar system) yang pertama digunakan secara luas. Menurut sistem Work-Factors, terdapat empat variabel yang mempengaruhi lamanya waktu untuk melakukan suatu gerakan dalam pekerjaan yaitu: (1) anggota badan yang digunakan, (2) jarak perpindahan, (3) kebutuhan kontrol manual dan (4) berat atau tahanan yang terlibat dalam pekerjaan. 

Sistem pengukuran waktu dengan MTM (Methods Time Measurement) dikembangkan berdasarkan
studi gerakan kerja pada pekerjaan-pekerjaan operasional dalam industri. Sistem pengukuran waktu secara tak langsung dengan MTM (Methods Time Measurement) dianggap sebagai sistem yang paling detail, akurat dan dapat diterima secara luas (Zandin, 2003). Untuk beberapa jenis pekerjaan yang mempunyai repetisi yang tinggi dan siklus operasi yang singkat, tingkat akurasi dan detail pada sistem MTM sangat efektif untuk dapat
mengidentifikasi metode kerja yang dapat diperbaiki (Zandin, 2003). Sistem pengukuran dengan metode MOST dikembangkan oleh Zandin pada tahun 1967 berdasarkan konsep - konsep yang terdapat pada sistem pengukuran dengan MTM. Dengan MOST, sistem pengukuran waktu dengan cara tak langsung dapat dilakukan lima kali lebih cepat dibandingkan dengan MTM-1 (Niebel dan Freivalds, 2003).